oleh

Azhari : Renungan diri Disudut Rumah Sucimu

-BERITA-1,067 views

Fokuskatanews.com..Kolaka –
Saya tak bisa menghitung jalan ini telah dilalui berapa langkah kaki yang berbeda,
Saya pun tak bisa menduga, sampai kapan aku berdiam disudut ini,Yang aku ingat, dulu ditigapuluh tahun lampau, diwaktu begini aku, begegas menuju surau dikampungku, Disana ada bapak – bapak, yang memang familiar dengan rumah tempat bersujud itu.

Disudut sana, selalunya bapak itu yang duduk khusuk,
Di posisi imam itu, dulu yang itu, kini telah keberapa bergantinya, padahal itu baru terbilang lebih tiga puluhan tahun berselang.

Aku yang dulu seperti satu dua bocah, yang setia mengunjungi surau itu,
Kinipun telah menggandeng bocah sepertiku dulu, ya seperti aku dulu bergegas, berlari kecil, lalu berdiri tenang disamping bapaku.

Kini, bapak itu adalah aku,
Dan dan yang disisiku adalah mahluk Allah yang baru yang ditipkan kepadaku.

Ya, tiga puluh, empat puluh tahun kelak, dan tak mungkin bilangan itu berhitung lipat kalinya. Anak ini akan sepertiku, dan aku akan seperti bapaku.

Itu aliran akalnya, itu deret hitungnya, tapi hitungan takdirNya aku tak tahu.
Aku tak tahu, sejak kapan batu kecil, dan pasir itu ada disana, yang kutau begitulah ia adanya sejak dulu.

Yang kutau dengan akalku, telah banyak langkah kaki yang melewatinya.
Entah aku, akan bertahan sampai kapan,
Yang kutau, langkah ini, seiring bertambahnya bilangan tahun tahun, yang berganti disetiap Desember, seperti bulan ini.

Akan berkurang, gesitnya, berkurang cekatannya, berkurang kokoh berdirinya.
Hingga ia mengeriput, lalu berakhir di tempat yang dulu tiga puluh tahunan lebih yang silam, aku akan begegas, mempercepat langkah bila melewatinya, sambil merapal doa yang teringat, ya perkuburan.

Kini, semoga istoqomah itu tetap Engkau titipkan dilangkah kakiku, dibelantara akalku yang dihuni oleh banyak pikir dan angan.

Semoga dipenghujung malam malammu, diawal pagi pagimu, disepanjang hayat yang Engkau Ridho aku menggunakannya.

Izinkan aku selalu melangka ketempat ini, menyebut namaMu, mengharap ampunMu,
Menaut asah menjumpaiMu dalam damai.

Wahai yang teramat segalaNya dalam kebaikan. Izinkan aku merinduiMu, ampunkan aku yang lalai, zalim, dan hina ini. Maafkan bibir, akal, hati, yang kotor ini menyebut nama namaMu yang suci dan Agung.

Ya, aku tak tau, berapa banyak langkah kaki, yang pernah melewati jalan ini.

Yang kutau, aku pun akan seperti mereka, mereka yang pernah dulu selalu melangka melewati jalan ini. Kini, banyak yang tinggal nama tertulis dengan kabur diatas nisan nisan, yang entah kapan akan hilang huruf hurufnya, hingga menjadi tak bertanda sedikitpun.

Ya untuk apa yang fana, bila kita harus kehilangan tujuan yang kekal.

Mari, selalu menyeimbangkan disaat muda,
Memberatkan, harap kesana bila telah mulai nampak uban uban dan keriput menyapa perlahan, diwajah wajah yang dulu kencang.

Bercerminlah, pada ayah ibu kita. Kita pun akan seperti mereka. Kuat, gagah, menuah, tertatih, mengabur pandangannya, hingga berakhir di pembaringan terakhir.

Penulis : Dr.Azhari,S.STP.,M.Si.
RektorĀ  Universitas Sembilanbelas November

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *